Saturday, 6 December 2008

Antara Perang, Cinta, dan Wong Cilik

KONFLIK, sebagai kunci menarik tidaknya sebuah naskah drama. Demikian RMA Harymawan dalam buku dramaturgi yang dia tulis. Dan konflik bisa beragam jenisnya. Bisa konflik politik, sosial, warisan, lingkungan, atau pun konflik karena memperebutkan seorang gadis.

Sama halnya dengan konflik yang terjadi di masyarakat. Seperti konflik munculnya SKB empat Menteri, sehingga berujung terjadinya aksi demonstransi buruh di berbagai tempat. Konflik muncul karen keinginan, baik dari pihak satu maupun pihak berikutnya. Pertentangan para pihak, yang di dalam naskah disebutnya sebagai tokoh. Sejauh mana konflik itu dikemas sedemikian rupa, dan itu sebagai tantangan.

Sama halnya dengan naskah drama. Orang datang menonton teater bisa beragam alasan. Bisa karena tertarik akting dari sang aktor. Karena kebetulan aktor atau artis yang main itu selebritis terkenal. Karena tertarik artistik, lampunya, dan masih banyak lagi alasan.

Atau karena tertarik naskahnya. Salah satu penulis naskah drama Kota Tegal, yang hingga sekarang masih aktif Yono Daryono (53). Selain sebagai penulis naskah, dia juga sutradara Teater RSPD. Antara Yono panggilan akrabnya dengan Teater RSPD, seperti tak terpisahkan. Sutradara sekaligus penulis naskah, demikian orang menyebut.

Di Indonesia sendiri ada sederet nama sutradara teater, tapi sekaligus penulis naskah. Sebut saja Arifin C Noor dengan Teater Ketjil, Putu Wijaya dengan Teater Mandiri, WS Rendra dengan Bengkel Teater, serta Nano N Riantiarno dengan Teater Koma. Di Bandung Jabar, kita mengenal nama Suyatna Anirun dengan STB. Mereka, para penulis naskah yang sekaligus berlaku sebagai penggarap naskah. Apa yang dihasilkanya itu dimasaknya sendiri. Tapi apakah hasil olahannya benar-benar nikmat. Mengugah selera. Jawabnya relatif. Bisa enak bisa hambar.

Karena bisa jadi ada koki-koki yang lebih hebat. Sebagian ada yang percaya nikmatnya masakan sangat tergantung bahan dasarnya, dalam hal ini naskah itu sendiri. Apa yang mau disampaikan dari naskah Yono Daryono. Bicara apa, ceritanya apa, demikian kerap orang menanyakan itu.

Jawabnya beragam. Ada naskah yang bernafas agama, maupun naskah yang berlatar sejarah masa lalu. Namun ada juga naskah dia yang dihasilkan dari hasil pemotretan sebuah realitas. Selain juga naskah dengan latar pergolakan politik masa penjajahan Belanda. Naskah pertamanya Umar bin Khotob (1982), disini dia mengkisahkan penentangan

Umar bin Khotob terhadap Islam. Namun lewat dakwah yang terus menerus, pria yang dikenal keras dan sangat disegani akhirnya memeluk Islam. Naskah dramanya Roro Mendut (1983), yang ditulis berdasar roman sejarahnya YB Mangunwijaya. Disini Yono Daryono ingin membuktikan kemurnian cinta gadis bernama Mendut. Sekalipun selembar nyawa harus melayang, namun karena cintanya dengan Proncitro resiko apa pun diterjangnya.
Masih dalam tema kesetian, dalam waktu tak terlalu lama dia pun menulis naskah Lara Jonggrang dan Ronggeng-Ronggeng (1986).

Khusus naskah Ronggeng-Ronggeng, disini penulis berusaha membela mati-matian seorang perempuan yang berprofesi sebagai ronggeng. Atau penari tayub. Sebuah profesi yang penuh resiko. Resiko digoda para pria hidung belang, namun tetap kukuh cintanya dengan pria desa. Yono juga membuat naskah dengan setting pergolakan di wilayah Pantura, Martoloyo Martopuro (88). Kedua tokoh itu harus berperang karena adu domba Belanda. Pada tahun 1991 Yono Daryono juga membuat naskah yang diambilkan dari cerita yang sudah melegenda.

Dalam pementasan wayang, Bhartayudha. Sama halnya dengan naskah Braen (95), yang dibuat berdasar ide para perempuan usia lanjut di Margasari Tegal. Sekalipun usia sudah uzur, mereka terus saja melantunkan tembang yang syairnya diambil dari kitab kuno. Masyarakat setempat menyebut Braen, dan oleh Yono dibuatlah naskah drama. Naskah berikut, Mandor dan Koplak (96). Kedua naskah itu banyak mengungkap persoalan wong cilik, yang ditindas atasannya majikan. Para buruh pabrik yang terus berjuang demi kelangsungan sanak keluarganya. Naskah lain Opera Abrahah (2003) dan Opera Sebayu, (2006). Opera pertama mengkisahkan dahsyatnya pasukan Gajah pimpinan Jendral Abrahah, yang harus kalah oleh Burung Ababil.Sedang Opera Sebayu mengkisahkan tokoh bernama Sebayu, dalam usahanya membangun wilayah Tegal. Naskah lain Sunan Panggung

Seh Malang Sumirang (2007). Banyak pihak memberi apresiasi dan pujian untuk Sunan Panggung. Disusul lahirnya naskah yang diambilkan dari kisah tokoh lokal masa penjajahan Belanda, yakni Brandal Mas Cilik (2007). Kisah Brandal Mas Cilik bagi warga Tegal-Brebes, bukanlah hal asing. Para dalang pun kerap mementaskan lakon tersebut. Dari naskah yang dia ditulis, khususnya naskah berseting masa kerajaan. Maka pembaca seperti diajak piknik ke masa yang lalu.

Di situ penulis juga menyebutkan angka tahun, termasuk tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya ditulisnya oleh Yono secara lengkap. Tentang perang sendiri Yono Daryono mengatakan, sebagai sesuatu yang harus terjadi. Selama manusia ada, kata Yono Daryono, maka perang selalu akan mengiringi sejarahnya. Pernyataan itu disampaikan untuk pengantar naskah Palagan Kurusetra. Selain itu berbicara masalah kemenangan dan kekalahan tidak memberikan kebijakan apa-apa.

Benarkah kemenangan dan kekalahan tidak memberi kebijakan apa-apa. Karena ada yang berpendapat dari kemenangan lahir kebijakan. Sebuah aturan, sehingga orang menjadi bijak dan bajik. Penulis naskah terkenal Jerman Bertold Brecht dalam upaya menghindari pembrangusan oleh rezim yang berkuasa, dia punya siasat sendiri. Untuk mengkritik rezim kejam yang lagi berkuasa penulis memilih seting sejarah masa lalu. Bahwa apa yang terjadi sebagai peristiwa zaman baheula. Tapi setelah ditelisik kritikan pada Nazi. Teknik isolasi itu sehingga dia bisa produktif.

Sekarang era keterbukaan. Era global, gambar-gambar sebuah peristiwa disajikan sedemikian nyatanya di TV. Dinikmati sambil makan, tiduran, atau sambil tongkrong di toilet pun bisa. Simbol-simbol diterjemahkan sedemikian nyatanya. Tanpa batas. Bagaimana dengan naskah Yono Daryono selanjutnya? Kita tunggu. (*)