Saturday, 18 October 2008

Menulis Itu Mudah

Sebuah tulisan untuk media-massa sebenarnya tidak selalu harus benar-benar “tulisan pribadi” atau yang sering kita bayangkan sebagai karya asli, meluncur dari kata-kata sendiri, buah pikiran asli, dan murni. Ada memang jenis naskah yang lebih enak ditulis dengan cara “mengarang“, yaitu yang keluar dari hati nurani atau pikiran sendiri. Misalnya saat menulis surat pribadi atau surat pembaca, menulis cerita, menulis essay (opini), menulis hasil pengamatan, pengalaman atau observasi.
Akan tetapi, untuk tulisan jurnalistik, cara “ngarang” ini biasanya belum pas sebagai naskah jadi. Kekuatan naskah karya jurnalistik sebenarnya terletak pada isi atau materi (substansi). Dan hal ini tidak mungkin dihasilkan hanya mengandalkan pikiran sendiri, apalagi melulu suara hati penuh emosi. Pembaca tidak akan peduli dengan pikiran Anda, juga perasaan Anda. Yang mereka mau, fakta-fakta apa yang Anda temukan dan laporkan.
Jadi, untuk menulis di media-massa rahasianya terletak pada “bahan”. Skill menulis apapun yang dimiliki pakai saja. Asal bisa menulis kalimat yang orang lain mengerti itu sudah cukup. Soal bagus atau jelek, biarkan saja.
Menulis Tanpa Beban
Proses menulis sebaiknya “FreeWriting” dan “Re-Writing”. Dengan teknik Free Writing, berarti kita menulis secara bebas, tanpa mempedulikan bagus tidaknya tulisan yang sedang digarap. Pokoknya terus saja menulis. Sekalipun tak urut, biarkan. Selesai menulis, mulailah menyunting. Dari membuang yang tidak perlu, menyusun lagi urutannya, dan memperbaiki bahasanya.
Cara lain adalah menulis dengan teknik Re-Writing atau menulis ulang. Ini sangat cocok dan sangat mudah bagi para pemula. Yang kita lakukan adalah mengumpulkan bahan-bahan (referensi atau hasil wawancara) kemudian menulis-ulang kembali bahan tersebut dan tentu saja menggunakan gaya bahasa sendiri. Sebut saja hasilnya sebagai naskah-ramuan.
Ramuan yang baik biasanya selalu berupa pernyataan yang disusun dengan kalimat lain, yang berbeda dengan kalimat sumber informasi yang asli. Sedang ramuan yang buruk seringnya berbentuk kumpulan kalimat sama dengan sumber aslinya. Kadang-kadang malah ada semacam ramuan atau rangkuman yang tidak merangkum, tapi mengutip berbagai pernyataan sesuai dengan aslinya, walaupun dengan kata-kata yang disana-sini diganti dengan kata lain agar agak berbeda.
Agar sebuah tulisan tersaji dengan rapi, ramping dan enak dibaca, ia harus dirangkai dengan pola urut-urutan tertentu. Pola urut-urutan ini disebut kerangka tulisan, yang pada dasarnya terdiri atas:

1. Judul
2. Lead
3. Tubuh
4. Penutup

Judul
Selain harus mencerminkan isi tulisan, judul harus mampu menarik perhatian calon pembaca. Sebab, siapapun yang akan membaca, pasti akan membaca judul terlebih dahulu. Sekaligus juga ingin tahu, apa yang akan disajikan dalam tulisan itu setelah perhatiannya tertambat pada judul. Jika judulnya melempem, tidak menarik karena tidak mencerminkan apa-apa, pembaca tidak akan tertarik membaca tulisan itu lebih lanjut. Intinya adalah penulis harus mampu mengiklankan naskah lewat judul.
Karenanya, membuat judul sebaiknya di akhir saja setelah naskah selesai. Sebenarnya boleh-boleh saja ditulis sebelum mulai menulis. Keuntungannya akan membantu penulis mengarahkan ide utama tulisan tersebut. Tapi sebaiknya anggap saja judul itu hanya sementara.
Untuk menciptakan judul yang “layak jual“ (saleable), carilah beberapa kata kunci (keyword) kemudian rancang paling sedikit tiga ide judul untuk dipilih yang paling jelas mencerminkan isi sekaligus paling laku. Judul harus dibuat seringkas mungkin namun tetap jelas maknanya. Tetapi sebaliknya, judul yang terlalu pendek juga tidak akan mampu mencerminkan tema atau sinopsis isi. Baik judul yang terlalu panjang, terlalu pendek, maupun yang kabur, tidak dikehendaki. Karena itu diperlukan pemikiran dan penulisan ulang beberapa kali dulu sebelum akhirnya ditemukan judul yang paling cocok.

Lead
Setelah tertawan oleh judul, minat para pembaca selalu akan tergugah oleh sapaan pertama (alinea awal) yang merupakan lead. Itulah wajah atau daerah paling depan yang akan membuat pembaca sudi masuk ke maksud utama penulis. Karena itu, pada waktu membaca pendahuluan ini mereka berharap akan bertemu dengan hal-hal menarik. Jika tidak berhasil, minat bacanya menurun.

Tubuh
Karena hal paling menarik sudah ditulis dalam pendahuluan, sebenarnya tubuh tulisan hanya kebagian sisa-sisa perihal yang kurang menarik saja. Ini bisa jadi akan membuat tubuh tulisan agak melempem. Untuk menghindari hal ini, sebaiknya penulis memoles alinea yang menyusun tubuh agar sedikit menarik.
Biasanya, satu alinea terdiri atas beberapa kalimat. Kalimat pertama menegaskan “apa” yang akan diceritakan. Kalimat kedua menjelaskan pengertian yang tersirat dalam kalimat pertama agar pembaca mempunyai gambaran lebih jelas tentang gagasan itu. Jika dengan kalimat kedua masih dirasa kurang cukup menjelaskan materi pokok, susunlah kalimat ketiga yang harus dapat menjelaskan kedua kalimat sebelumnya itu agar pembaca mempunyai “gambaran yang jelas” tentang hal yang dituturkan itu.
Begitu seterusnya, kalimat belakangan selalu menjelaskan kalimat sebelumnya. Tidak merupakan kalimat baru yang mencetuskan ide lain yang baru. Apalagi ide yang tidak ada hubungannya dengan kalimat-kalimat sebelumnya.
Jika ada gagasan baru buat saja alinea baru. Tetapi jangan lupa selesaikan juga alinea sebelumnya hingga tuntas. Alinea yang banyak dibaca ialah yang beruntun. Kalimat-kalimatnya saling berkaitan, menuju ke arah suatu gambaran tertentu yang gamblang. Tubuh tulisan yang tersusun dari sejumlah alinea beruntun itu sebaiknya dibagi-bagi menjadi beberapa bagian, yang jumlahnya sesuai dengan materi (hal, topik, masalah) yang ada.
Supaya tulisan terasa lebih ringan, sebaiknya juga dibatasi jangan sampai terlalu panjang melebihi empat bagian. Memang boleh saja terdiri atas satu bab yang amat panjang, tapi tulisan semacam itu pasti melelahkan pembaca. Dan usaha menggugah minat baca yang sudah berhasil dilakukan oleh alinea pendahuluan sebelumnya jadi sia-sia, karena tubuh tulisan terlalu melelahkan.
Tiap bagian dari tubuh tulisan harus diberi judul bab sebagai pemisah. Selain memberi kesempatan pembaca agar beristirahat sejenak (pikirannya) sebelum meneruskan membaca, judul bab bertugas sebagai penyegar, pemberi semangat baca yang baru.
Tubuh tulisan akan terasa enak dibaca jika terasa lancar membacanya. Dan agar tercipta kelancaran dimaksud, alinea-alinea yang membentuk bab atau bagian dari tubuh tulisan harus dinamis. Artinya, harus cepat beralih ke topik berikutnya jika memang sudah waktunya beralih. Sebuah tulisan akan mengesankan jika ia sudah tamat dibaca dalam waktu lima belas menit. Waktu sesingkat ini tidak melelahkan pikiran untuk menyerap informasi.

Penutup
Tulisan akan janggal jika ditutup dengan kata “penutup” seperti makalah lokakarya. Meskipun tulisan harus ditutup dengan penutup, tapi lebih enak jika tidak dikatakan terus terang dengan judul ”penutup”, melainkan langsung saja berupa alinea baru yang bergaya pamit dan terasa sebagai alinea akhir.
Gaya pamit biasanya bisa dihasilkan dengan menyelipkan kata “demikian”, “jadi”, atau “maka”. Kata “akhirnya” juga memberi kesan bahwa alinea ini bergaya pamit asalkan diikuti dengan nada menurun.
Dengan merasakan gaya pamit itu, sebenarnya para pembaca juga sudah tahu bahwa sebentar lagi “perjalanan ke alam imajinasi melalui tulisan” akan berakhir tanpa perlu diumumkan. (*)

*) Suyuti Abdul Ghofir, Penulis lepas tinggal di Tegal.

No comments: