Tuesday, 25 November 2008

22 KK Mengungsi

SEKITAR 22 KK ditempat relokasi di Dukuh Cengis Desa Simpur Kecamatan Belik Pemalang terpaksa mengungsi akibat suara tanah bergemuruh dan berguguran. Khawatir rumahnya ambruk, warga memilih mengemasi barang-barangnya dan mengungsi.

Mereka secara bergerombol mengungsi ke daerah yang lebih aman dan umumnya menumpang pada keluarga yang berada di Dukuh Barong, Desa Simpur yang berjarak sekitar 3 - 4 kilometer dari lokasi perkampungan mereka.

Kekhawatiran warga telah terbukti dengan kerusakan sebuah rumah yang nyaris ambruk akibat tanah retak tersebut. Tak hanya itu, warga juga dikagetkan dengan suara menggelegar yang keluar dari pergeseran tanah tersebut yang kerap mengakibatkan rumah mereka bergetar yang menandakan sepertinya perkampungan itu akan hancur.

Suara gemeretak dari lantai bangunan rumah saling bersahutan, yang membuat warga panik dan berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri. "Pokoknya semua warga di sini sangat ketakutan dan panik mendengar suara tanah yang bergemuruh ," ujar Kepala Desa setempat Zaenudin, kemarin.

Kejadian tanah retak di kampung itu bermula pada Sabtu (22/11) yang lalu. Namun suara gemuruh masih terdengar lirih hingga dianggap tidak terlalu membahayakan.Tapi kondisi itu diperparah dengan terjadinya letupan-letupan kecil.

"Kondisi paling parah hingga membuat warga panik terjadi pada minggu malam, warga dikagetkan dengan suara letupan yang cukup keras yang dibarengi hujan lebat. Meski sampai saat ini bumi masih terasa bergetar," jelas Zaenudin.

Ketakutan dari warga hingga melakukan pengungsian itu bukan hanya alasan dari suara gemuruh dari tanah yang berbukit itu. Namun pada tahun 2007 tanah retak - retak juga pernah menimpa mereka saat menghuni di Dukuh Barong Desa Simpur.

Saat itu, lanjut Kades, akibat tanah retak - retak sebanyak 52 rumah warga, 1 sekolah taman kanak- kanak dan mushola rusak. Pasca kejadian sebanyak 52 KK juga direlokasi ke Dusun Cengis Desa tersebut. Namun kini kondisi relokasi, ternyata sama dengan lokasi tempat semula para warga bermukim, yakni di Dukuh Barong. Akibatnya, sekitar 22 KK dari 52 KK yang sudah mau bermukim di tanah relokasi, kini kembali mengungsi langi dilokasi awal.

" Untuk itu kami meminta agar pemkab segera menuntaskan permasalahan relokasi. Terutama adanya penataan lahan di Dukuh Cengis ini," pinta Kades Zaenudin.

Kepala Kesbanglinas Dian Subagyo, SH melalui salah seorang staf Linmas Slamet membenarkan adanya sejumlah warga Dukuh Cengis yang kini mengungsi ke Dukuh Barong. Pihaknya juga mengaku sudah mengirim laporan tersebut, namun hingga kini belum ada petunjuk.

" Saat ini kami masih menunggu nota dinas dari Bupati atas penanganan bencana yang menimpa warga Dukuh Cengis. Kalau sudah ada nota dinas dari bupati maka kami akan melakukan koordinasi dengan pihak DPU pemkab Pemalang," ujarnya.(*)

No comments: